Menanam Kembali dan Revitalisasi Agent of Change

Terhitung sejak awal Maret, atau tepatnya sejak Pasien Positif Covid-19 bernomor urut nol satu diumumkan, tepat pada hari itu juga Presiden Indonesia Joko Widodo telah menyampaikan bahwa Pemerintah sudah siap melawan Covid-19 dengan berbagai persiapan dari mulai fasilitas kesehatan hingga alokasi anggaran. Namun, selama kurang lebih dua bulan bangsa ini dinyatakan pandemi, serta berbagai imbauan perilaku hidup sehat dan bersih, perenggangan sosial hingga kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah sudah dilakukan demi membatasi penyebaran virus Covid-19, pandemi ini belum juga usai. Mengingat PSBB, ada yang berbeda saat saya mengikuti kuliah Komunikasi Perubahan Sosial pada minggu lalu (1/5/2020).

Dosen saya, Dr. Basita Ginting menyampaikan bahwa PSBB di dalam Ilmu Komunikasi Perubahan sosial bukan Pembatasan Sosial Berskala Besar semata melainkan Perubahan Sosial Berskala Besar. Hal yang disampaikan Dr. Basita bukan tanpa sebab. Covid-19 memiliki dampak yang luas dan bukan hanya menyasar sektor kesehatan. Rektor IPB University Prof. Arif Satria dalam opininya yang dimuat di Media Indonesia pada tanggal 28 April 2020 menjelaskan bahwa efek Covid-19 juga menyasar aspek ekonomi, pendidikan, keagamaan, pemerintahan, dan pangan. Di tulisan itu juga, Rektor yang juga merupakan Guru Besar Tetap Bidang Ekologi-Politik di IPB University ini menyampaikan solusi bahwa kondisi ini merupakan momentum untuk Memasang Ulang Tata Kehidupan atau yang Ia sebut Install Ulang Tata Kehidupan.


Pemasangan ulang tata kehidupan tersebut meliputi pemulihan lingkungan, gaya hidup sehat, sosial ekonomi, pembelajar agar melakukan riset transformatif dan bermanfaat, dan terakhir tata ulang kehidupan spiritual. Secara garis besar, saya setuju ide program ini, namun secara fundamental, sepertinya ada yang dilupakan oleh Prof Arif Satria. Padahal, pada awal gagasan yang merupakan latar belakang opini, beliau telah mengutarakan hal tersebut namun tidak disampaikan secara ide. Hal itu adalah tentang Pangan.


Tidak bisa dipungkiri bahwa pangan menjadi salah satu sektor yang terdampak pada saat pandemi ini. Bahkan, seperti yang disampaikan oleh Tempo.co pada tanggal 28 April 2020, Presiden Indonesia Joko Widodo menyampaikan bahwa sejumlah bahan pangan mengalami defisit. Menurut Jokowi, laporan yang diterimanya menunjukkan stok beras mengalami defisit di tujuh provinsi, stok jagung defisit di 11 provinsi, kemudian stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi dan stok bawang merah diperkirakan juga defisit di satu provinsi. Dan distribusi yang memang sedang dibatasi menjadi faktor utamanya.


Selain itu, Rektor Arif juga perlu mengingat kembali bagaimana isi pidato Founding Father Indonesia Ir. Soekarno saat meresmikan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1952. “Sodara-sodara, soal persediaan makanan rakjat ini, bagi kita adalah soal hidoep ataoe mati. Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kaloe kita tidak “ampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami tjelaka.”


Pandemi yang belum juga usai, kondisi pangan yang ternyata mengalami permasalahan dan amanah yang diemban oleh IPB sebaiknya menjadi bahan refleksi bagi Rektor Arif Satria beserta seluruh masyarakat IPB, dari mulai Dosen, Staf dan juga Mahasiswa. Sebaiknya, Rektor Arif perlu menambahkan salah satu program yang saat ini bisa dilakukan dan menjadi bagian dalam sosial masyarakat kita yaitu Menanam Kembali. Pada kondisi saat ini sebaiknya kita jangan tergantung hanya kepada petani, namun juga sebaiknya memiliki kebun sendiri untuk bisa memenuhi ketahanan pangan minimal tingkat keluarga. Menanam Kembali dapat menjadi salah satu kegiatan yang bisa dilakukan oleh masyarakat di tengah pandemi ini yang memang disarankan untuk beraktivitas dari rumah. Hal ini juga menjadi hal perubahan sosial di dalam masyarakat karena terdapat aktivitas baru yang sebenarnya sudah dilakukan oleh nenek moyang kita yaitu menanam kembali dan berkebun.


Menanam Kembali juga dapat menghasilkan produk pangan yang kita olah sendiri dan tahu bagaimana prosesnya, sehingga kita juga tahu bagaimana kandungan kesehatannya karena untuk konsumsi sendiri tidak mungkin menggunakan bahan tambahan yang tidak menyehatkan. Kemudian, praktik berkebun di tengah kota atau yang disebut Urban Farming juga sedang digalakan di negara dan kota-kota besar.

Di tengah minimnya lahan kosong, urban farming hadir dengan memanfaatkan ruang dengan media yang ada di sekitar rumah bahkan ada juga yang memanfaatkan lahan tidur. Bahkan, praktik Menanam Kembali sebagai bentuk antisipasi ketahanan pangan juga sudah mulai dipraktikkan oleh muda-mudi di Bogor seperti yang diberitakan oleh bogornetwork.com pada tanggal 21 April 2020 dengan judul Insan Kreatif Muda Bogor Lakukan Menanam Kembali.
Sehingga, saya berharap Rektor Arif yang merupakan pimpinan institusi pendidikan di dunia pertanian dapat mendorong masyarakat untuk melakukan program ketahanan pangan dengan menanam kembali atau kembali berkebun.


Di samping itu, pandemi yang sedang terjadi juga menciptakan perubahan yang signifikan di beberapa sektor. Tak lain dan tak bukan, kehadiran teknologi menjadi salah satu faktor beberapa kondisi menjadi berubah. Rektor IPB University Prof. Arif Satria dalam opini yang dimuat di Harian Republika pada tanggal 2 Mei 2020 menjelaskan bahwa Covid-19 memaksa beberapa kalangan untuk memanfaatkan teknologi dan memasuki era revolusi industri 4.0.

Beberapa hal yang pada awalnya harus dilakukan dengan bertatap muka secara langsung, pada kondisi ini yang juga diuntungkan dengan kehadiran teknologi yang sudah ada menjadi tidak perlu bertemu dan bisa dilakukan secara jarak jauh dan hanya memanfaatkan gawai atau perangkat komputer lainnya.
Prof Arif menyampaikan bahwa dunia pendidikan, pekerjaan, kesehatan, galang dana kemanusiaan, transportasi daring hingga pertanian menjadi berubah seketika karena pandemi ini. Contoh paling nyata yang dirasakan oleh penulis adalah bagaimana perubahan gaya belajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka di kelas kini sudah hampir lima pertemuan dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Google Meeting, Zoom dan juga Grup Whatsapp. Meski pada awal terasa aneh, namun penulis bersama rekan lainnya dan juga para Dosen Pengampu mencoba terbiasa dan sesekali kelas coba dibuat prakelas dahulu dengan latihan agar ketika waktunya belajar di kelas dapat terbiasa dan tanpa kendala.


Meskipun terlihat diuntungkan, namun keadaan ini belum bisa dikatakan menyeluruh, bahkan Prof. Arif juga menyatakan bahwa keadaan ini masih parsial. Infrastruktur internet yang belum merata di beberapa daerah dan juga kemampuan literasi digital serta memanfaatkan perangkat teknologi dengan baik oleh masyarakat masih harus menjadi evaluasi bila keadaan ini akan terus terjadi meski seolah menjadi perangkap. Belum lagi keamanan pengguna yang masih menjadi permasalahan karena beberapa waktu terakhir sedang marak kasus pembobolan dan jual beli data pengguna. Beberapa hal ini perlu menjadi pertimbangan Pemerintah dan juga masyarakat.


Namun, ada yang tidak kalah penting dibanding kemajuan yang meskipun terasa seperti perangkap karena pandemi ini, ada keadaan di masyarakat yang masih perlu diubah di tengah pandemi ini. Dari mulai kesadaran masyarakat untuk mempraktikkan segala imbauan dan menjaga diri hingga praktik perubahan yang responsif di kalangan masyarakat. Oleh karena itu penulis mengusulkan kepada orang nomor satu di IPB University untuk kembali menguatkan peran Agent of Change. Perlu kita ingat bersama bahwa IPB University atau bahkan semua kampus adalah pabrik agen perubahan.

Mahasiswa yang memiliki kemampuan dan wawasan lebih tinggi dibanding masyarakat lainnya perlu didorong untuk terjun langsung bersama masyarakat demi merespon keadaan yang belum bisa dipastikan kapan akan selesainya.
Dan yang menarik lagi, pandemi ini mengharuskan hampir semua Mahasiswa melakukan proses pembelajaran di rumah, yang artinya Mahasiswa memiliki lebih banyak waktu di rumah dibanding di kampus dan tentunya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk melebur bersama masyarakat. Pada kondisi ini, Mahasiswa yang disebut sebagai agen perubahan dapat memulai gerakannya dengan mengedukasi masyarakat mengenai pandemi ini dan menjelaskan bagaimana cara untuk menghadapinya. Meskipun hal ini tidak mudah karena curhatan para mahasiswa justru memiliki banyak tugas di tengah kuliah daring ini.


Hal ini perlu dilakukan mengingat di dalam ilmu komunikasi pembangunan, agen perubahan yang juga bisa disebut fasilitator menurut Levin dalam Mardikanto (2010) menjelaskan bahwa salah ada tiga tahapan peran penyuluh adalah menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan. Kemudian Mosher dalam Mardikanto (2010) juga mengungkapkan bahwa setiap fasilitator harus mampu melaksanakan peran sebagai Guru untuk mengubah perilaku, Penganalisa yang melakukan pengamatan terhadap keadaan, masalah dan juga potensi, Penasehat untuk memilih alternatif perubahan yang paling tepat, dan Organisatoris yang harus mampu menjalin hubungan baik dengan segenap lapisan masyarakat, mampu menumbuhkan kesadaran dan menggerakan masyarakat secara partisipatif serta mampu memobilisasi masyarakat maupun mengembangkan masyarakat.


Terakhir, kegiatan menanam kembali untuk mengantisipasi kelangkaan pangan dan juga penguatan kembali peran agen perubahan merupakan hal yang berkelindan, dan kedua hal ini tidak jauh dari pondasi dasar IPB University, sehingga bisa menjadi salah satu senjata untuk merespon keadaan dan membangun perubahan sosial yang baik untuk masyarakat dan bangsa Indonesia.

Penulis: Robby Firliandoko
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pembangunan dan Pertanian Pascasarjana IPB University

Foto: Kegiatan Menanam Kembali dari Bogor Rise Against Corona (Borac 19)


Gunungputri, 5 Mei 2020. 


Daftar Pustaka
Firliandoko, Robby. 2020. Insan Kreatif Muda Bogor Lakukan Menanam Kembali. Diunduh di https://bogornetwork.com/indeks/berita-utama/insan-kreatif-muda-bogor-lakukan-menanam-kembali/ pada tanggal 4 Mei 2020, Pukul 21.00.
Mardikanto, T. (2010). Komunikasi Pembangunan. UNS Press.
Nurita, Dewi. 2020. Jokowi Sebut Stok Sejumlah Bahan Pangan Mengalami Defisit. Diunduh di https://bisnis.tempo.co/read/1336481/jokowi-sebut-stok-sejumlah-bahan-pangan-mengalami-defisit pada tanggal 4 Mei 2020, pukul 20.00.
Satria, Arif. 2020. Instal Ulang Tata Kehidupan. Dimuat di Media Indonesia pada Tanggal 28 April 2020.
Satria, Arif. 2020. Covid-19 dan Revolusi Industri 4.0. Dimuat di Harian Republika pada Tanggal 2 Mei 2020.

Lawan Korona Perlu Komunitas Warga yang Kompak

Berbagai upaya Pemerintah untuk menyelesaikan pandemi Covid-19 telah dilakukan. Dari mulai imbauan perenggangan sosial hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, baru-baru ini Pemerintah Kota maupun Kabupaten mengimbau pemerintah tingkat Kecamatan hingga Rukun Warga (RW) untuk membentuk Kampung Siaga.

Melalui Kampung Siaga, masyarakat diharapkan dapat gotong royong dan saling membantu. Meski demikian, tidak sedikit yang masih kurang tepat menjalankan Kampung Siaga dan justru hanya melakukan penguncian akses yang sering kita dengar dengan kata lockdown.

Bukan menyelesaikan masalah, lockdown di tingkat masyarakat justru melahirkan masalah baru. Dari mulai sulitnya akses warga hingga terbatasnya akses pedagang keliling yang menggantungkan hidupnya dari berjualan harian.

Berbeda dari keadaan tersebut, Kampung Siaga RW 09 dan 10 Desa Karanggan, Kecamatan Gunungputri Kabupaten Bogor, yang merupakan salah satu zona merah penyebaran Covid-19 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini mencoba memberikan pengetahuan akan penanggulangan penyebaran virus dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Ketua Tim Satgas Kampung Siaga RW 09 dan 10 Desa Karanggan, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor Robby Firliandoko menyadari bahwa wabah tidak hanya menyerang kesehatan namun juga aktivitas perekonomian masyarakat, sehingga ketahanan pangan masing-masing warga juga dapat terdampak.

“Untuk mengedukasi dan membantu mempersiapkan warga dalam menghadapi corona, saya bersama pemuda dan warga Desa Karanggan berinisiatif untuk menerapkan program Kampung Siaga di desa ini, karena kami sadar selain mematuhi imbauan pemerintah pusat, warga setempat juga harus kompak merangkul sesama dalam menghadapi wabah ini,” jelas Robby yang juga bertugas sebagai Pendamping Kampung Siaga dari Bogor Rise Against Corona (Borac).

Lebih lanjut, Robby menjelaskan bahwa program Kampung Siaga di Desa Karanggan dimulai dengan pembatasan pintu akses wilayah, dari semula terdapat lima pintu akses menjadi hanya satu yang dibuka, guna memantau pergerakan warganya. Hal ini dilakukan demi menekan potensi penyebaran virus di dalam wilayah, lantaran Kelurahan Gunungputri merupakan daerah dengan jumlah pasien positif tertinggi di Kabupaten Bogor, yakni sebanyak 8 orang positif dan 22 PDP (Pasien Dalam Pengawasan), berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Bogor pada 13 April 2020.

“Melalui program ini, kami juga ingin menunjukkan bahwa Kampung Siaga ideal untuk mencegah meluasnya penyebaran virus, dan ini bukanlah lockdown, karena pembatasan pintu akses bukan bertujuan untuk membatasi aktivitas warga, melainkan untuk memastikan orang yang masuk wilayah kami itu steril. Pintu akses selalu dijaga oleh petugas dari warga setempat yang memastikan setiap tamu atau pedagang yang memasuki desa kami menggunakan masker, membersihkan tangan dengan hand sanitizer, dan didisinfektasi propertinya terlebih dahulu bagi pedagang,” tambahnya.

Selain melakukan pembatasan pintu akses, melalui program ini warga RW 9&10 Desa Karanggan ini juga melakukan donasi bahan pokok bagi warga yang perekonomiannya terdampak pandemi, khususnya yang berprofesi sebagai pekerja harian seperti pedagang yang kini sepi pembeli, ojek daring, buruh yang dirumahkan, kuli bangunan, dll. Hingga kini, donasi dari warga setempat yang telah dikumpulkan secara kolektif selama dua minggu telah disalurkan kepada 21 Kepala Keluarga yang membutuhkan, dan terus berlanjut.

Kampung Siaga RW 910 Desa Karanggan yang sudah berjalan sejak 30 Maret 2020 ini juga memfasilitasi warga yang sedang merasa tidak sehat untuk mendapatkan perawatan, dengan melakukan koordinasi langsung dengan tim medis dari Puskesmas setempat dan juga Tim Medis Kabupaten Bogor, dari memantau kesehatannya melalui telepon hingga melakukan pengecekan secara langsung ke rumah warga yang sakit. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mencegah kemungkinan warga yang imunitas tubuhnya sedang lemah terpapar virus yang dibawa oleh orang luar, jika harus berkunjung ke puskesmas atau rumah sakit.

“Dengan semakin bertambahnya jumlah pasien COVID-19 di Indonesia yang sedang ditangani tenaga kesehatan kita, rumah sakit menjadi tempat yang berisiko bagi orang dengan imunitas tubuh yang sedang lemah, untuk itu kami mengimbau kepada seluruh warga untuk saling memantau keadaan tetangga sekitarnya agar bisa dilaporkan ke RT setempat dan Satgas Kampung Siaga jika ada yang terindikasi sedang tidak sehat, agar bisa dilakukan tindakan secara cepat. Kami juga membagikan masker kepada lansia sebagai bentuk menjaga orang tua kami,” lanjut Robby.

Untuk meningkatkan manfaat dari program ini, kedepannya Satgas Kampung Siaga RW 9&10 Desa Karanggan akan mengajak seluruh warga yang ekonominya berkecukupan untuk secara kolektif membantu keluarga dari warga yang tengah terdampak perekonomiannya, dengan inisiatif lanjutan berupa iuran dari tiga rumah untuk satu rumah yang terdampak. Dengan harapan bantuan kebutuhan pokok secara kolektif ini bisa menjaga ketahanan pangan keluarga yang perekonomiannya terdampak.

Mengingat akan mulai diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada 15 April mendatang di Kabupaten Bogor, Robby berharap desa lain juga tergerak untuk menerapkan program Kampung Siaga sebagai inisiatif untuk membantu pemerintah dalam menekan penyebaran virus dan mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi pandemi dan segala dampak buruk yang ditimbulkannya.

“Alhamdulillah kelima program ini terus berjalan. Dan saat ini kami sedang mematangkan konsep Lumbung Pangan,” tutupnya.

Ditulis oleh: Robby Firliandoko

Berkebun Ala Rara Sekar Solusi Jaga Ketahanan Pangan Komunitas

Dua bulan sudah virus corona menjadi pandemi di bumi pertiwi. Pemerintah di tingkat pusat hingga masyarakat mencoba melakukan berbagai upaya untuk melawan dan menyelesaikan masalah pandemi ini. Rara Sekar, musisi muda bertalenta memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi pandemi korona, yakni dari mulai menyiapkan protokol kesehatan bersama warga hingga memanfaatkan kebun untuk menjaga ketahanan pangan.


“Upaya pertama adalah menyiapkan protokol kesehatan di tingkat perumahan. Misalnya ada tempat cuci tangan, disemprot dan kiriman paket ditaruh di pos jaga kemudian warga yang ke depan,” kata musisi kelahiran Juni 1990 ini saat menjadi narasumber di #ObrolinPangan10 dari KRKP pada Jumat (17/4/2020).



Pada diskusi daring yang mengusung tema Sistem Cadangan Pangan Komunitas di Tengah Pandemi ini Rara Sekar juga menjelaskan bahwa ada potensi krisis ekonomi dan saat ini mulai dirasakan.


“Teman-teman buruh sudah diPHK. Dan kami membayangkan bila ada tetangga yang diPHK, kemudian pengurus kompleks berinisiatif membangun lumbung pangan. Konsepnya adalah setiap warga memberikan sumbangan beras, makanan kaleng, atau uang sehingga menjadi lumbung pangan solidaritas. Kemudian, bila ada yang membutuhkan bisa digunakan,” tambah Rara Sekar.


Personel Daramuda yang sudah sejak 2016 menanam dengab konsep pertanian urban ini merasakan manfaat berkebun di tengah pandemi ini.


Rara sendiri sudah menanam mandiri meskipun belum memenuhi kebutuhan 100%. Bagi Rara berkebun untuk makanan diri sendiri. Tapi beberapa bulan terakhir, sebelum adanya covid ini Rara bersama suaminya Ben mencoba eksperimen dengan memanfaatkan hutan pangan di lahan-lahan tanpa tuan di perumahan mereka.


Selain menjadi ruang menanam buah-buahan dan tanaman lainnya, lahan bersama ini menjadi ruang pertukaran benih dan interaksi warga.

“Pas covid masuk jadi sangat merasakan bahwa hal ini sangat penting. Kami bersyukur karena bisa memanfaatkan ini dan bisa memenuhi 50% kebutuhan kami. Dan untungnya 80% warga kami memang berkebun. Dan kami juga berdiskusi dengan warga untuk memanfaatkan lahan-lahan yang tidak digunakan,” kata Musisi Muda yang tinggal di Kabupaten Bogor ini.



Selain itu, Rara juga melakukan pemilahan sampah organik dengan harapan bisa menjadi kompos untuk warga, dan ini bermanfaat ketika PSBB yang mengurangi mobilisasi.


“Observasiku di supermarket itu sayur segar sudah mulai langka. Kemudian caranya aku beli sayur di e-commerce yang menjembatani antara pembeli dengan petani di sekitar wilayah kita,” jelas Mentor Arcademy Project ini.


Bagi Rara, memiliki kebun itu adalah salah satu praktik yang sangat penting karena selain bermanfaat dalam ketahanan pangan tetapi juga bermanfaat untuk membangun solidaritas dan sosial bersama masyarakat apalagi di Kota yang tingkat sosialnya sudah sangat minim.


Penulis: Robby Firliandoko
Editor: Robby Firliandoko
Foto: IG @rarasekar

Pemuda Gunungputri Bantu Pondasi Dapur Tetangga

Pemuda RW 09 dan 10 Desa Karanggan, Kecamatan Gunungputri Kabupaten Bogor memiliki inisiatif yang mulia di tengah pandemi virus korona ini. Berbekal inisiatif untuk bertanya teman dan tetangga yang kesulitan kebutuhan pangan, mereka mencoba menggalang dana dan memberikan sembako untuk membantu sesama.

Semenjak pandemi virus korona mewabah di bumi pertiwi, perenggangan sosial menjadi salah satu solusi yang diimbau oleh pemerintah. Hampir semua warga dianjurkan untuk tetap di rumah agar bisa mengurangi pertemuan dengan orang lain dan membatasi penyebaran virus korona. Tagar #dirumahaja juga menjadi hal yang ramai di dunia maya.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua orang bisa #dirumahaja, apalagi bagi mereka yang merupakan tulang punggung keluarga dan pekerja harian, belum lagi yang merupakan pengangguran. Kondisi ini juga memengaruhi pemasukan keluarga dan kebutuhan pangan.

Berangkat dari keadaan itu, Pemuda asal RW 09 dan 10 Desa Karanggan, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor Tio, Fernando, Cahya, Rio dan Ale memiliki inisiatif untuk membantu teman dan tetangga yang memiliki masalah pondasi dapur. “Di tengah keadaan ini kita juga khawatir bahwa ketahanan pangan keluarga dapat menjadi masalah baru. Oleh karena itu kami tanya teman-teman di grup rumah dan ternyata ada yang sedang tidak bekerja dan sudah kesulitan kebutuhan pangan. Padahal dia tulang punggung keluarga,” kata Tio kepada Redaksi Si Bro pada hari Selasa (31/3/2020).

Fernando dan Cahya juga menambahkan bahwa ketika mendengar kabar itu mereka merasa sedih dan langsung mengajak kawan-kawan lainnya untuk patungan. “Alhamdulillah terkumpul dana dan langsung kami belikan beras, minyak goreng, telur, dan mi instan,” kata Cahya.

Rio juga menambahkan bahwa akan terus mencari tetangga dan teman-teman di wilayahnya yang memiliki masalah pondasi dapur dan akan berusaha menyalurkan bantuan. Ale juga berharap agar semakin banyak yang peduli dengan tetangganya karena kondisi perenggangan sosial ini jangan sampai malah membunuh jiwa sosial anak muda.

Penulis: Robby Firliandoko
Editor: Robby Firliandoko

Prof Arif Satria Luncuran Buku Politik Sumber Daya Alam

Alam bersifat terbatas, tetapi harus berhadapan dengan kebutuhan, keinginan dan kepentingan manusia yang seolah tidak terbatas. Inilah alasan yang paling mendasar mengapa terjadi krisis Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan. Prof Dr Arif Satria, Rektor IPB University yang juga Guru Besar dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat menerbitkan Buku Politik Sumber Daya Alam (PSDA) yang membahas tentang kajian politik lingkungan, perikanan dan pangan yang merupakan sektor strategis di Indonesia. Bedah Buku dilangsungkan di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (7/3).

Prof Tridoyo Kusumastanto selaku Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) IPB University dalam sambutannya menyampaikan, “Buku adalah sebuah peradaban, kalau dicermati buku disusun mulai dari pengalaman, diuji dengan teori dan kemudian dituliskan menjadi gagasan yang besar. Untuk menjadi seorang profesor memerlukan waktu yang panjang dan itu diuji dengan banyak hal, mulai dari mengurusi mahasiswa yang itu banyak problem sampai bertemu dengan berbagai kebijakan publik.”

Lebih lanjut dikatakannya, “Problem yang kita hadapi sebagai bangsa adalah sebuah gagasan penting yang telah dituangkan tapi tidak nyambung ke kebijakan publik. Ini harus menjadi perhatian bersama. Kebijakan yang sudah diputuskan harus sampai selesai diimplementasikan” ujar Prof Tridoyo.

Sementara itu, Prof Arif Satria mengurai bahwa menulis itu bukan sekedar seni membuat kata-kata, tetapi bagaimana mengkonstruksi pemikiran agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi publik. “Pengalaman saya pribadi, dengan menulis opini di media massa, saya terlatih untuk berpikir sistematis, berlatih untuk mencari angle sudut pandang yang berbeda, melatih untuk berpikir cepat, dan juga melatih untuk peduli kepada kepentingan publik, ” ungkapnya.

Prof Arif lebih lanjut mengurai, “Indonesia punya obsesi untuk menjadi negara maju sehingga kalau kita tidak bisa mengelola dengan baik SDA yang melimpah ini dengan memperhatikan aspek justice, aspek ekologis, aspek bisnis maka kita tidak akan mampu survive di masa mendatang.”

Ia menambahkan bahwa hybrid dari sosial politik dan prinsip scientific rasionalitas ekologi, ekonomi, sosial politik harus dalam satu bingkai yang terintegrasi. “Rasionalitas teratas itu didominasikan oleh sejumlah aktor. Aktor yang penting adalah negara, market dan community. Tiga aktor ini yang menurut saya dominan,” ujarnya.

Menurut Prof Arif, era demokrasi adalah era yang bisa dijadikan untuk menjadi momentum dimana antar aktor menjadi ruang yang bisa bertemu dan peran civil society seperti kampus, NGO itu untuk mengintegrasikan sehingga menciptakan keseimbangan antar rasionalitas ekonomi, politik dan ekologi. Momentum demokrasi adalah momentum yang bisa dimanfaatkan untuk bisa menciptakan sebuah era dimana harmonisasi, integrasi bisa tercipta.

“Pendekatan-pendekatan transdisiplin yang mengintegrasikan antara hard science, social science dan community dalam sebuah knowledge yang baru itu menjadi penting dan IPB University yang hadir dengan suistanability science semoga semakin berkembang sehingga apa yang kita cita-citakan bahwa bumi, air, dan keindahan alam di dalamnya bisa kita manfaatkan untuk kesejahteraan rakyat dapat terwujud ” ujar Prof Arif.

Hadir juga dalam Bedah Buku ini, Bahlil Lahadalia selaku Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Bahlil menyatakan bahwa tulisan itu penting tapi jauh lebih penting memahami arti tulisan itu. “Saya tidak pandai menulis tapi rajin membaca dan banyak diskusi. Keterbatasan itu tidak membuat kita untuk menyerah, tapi dalam perspektif bisnis keterbatasan itu ada secercah harapan opportunity yang kalau kita maksimalkan akan menjadi sesuatu yang berharga di masa depan” ujar Bahlil.

Dalam kesempatan ini, Suharso Monoarfa selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI mengatakan bahwa ada satu laporan mengenai ekonomi dunia bahwa perkembangan ekonomi itu sudah tidak lagi seperti sekarang. Ia mencontohkan World Bank kalau membuat report banyak dengan gambar, peta dan seterusnya.

“Challenge buat Pak Arif adalah bagaimana kita menulis buku dengan gaya anak-anak sekarang, bahasanya seperti Gunawan Muhammad hanya dengan tujuh pepatah kata, membuat suatu kalimat tidak lebih dari tujuh suku kata, pendek tapi pesannya sampai. Sekarang harus dengan gambar, foto dan sebagainya. Memang ada buku yang lebih berat tapi memang yang menulisnya pada kelasnya. Siapa tau dari kita ada yang menang hadiah nobel” ujar Suharso.

Acara ini dilanjutkan penyerahan buku Politik Sumber Daya Alam kepada menteri, pejabat tinggi negara, pejabat IPB University, guru, pemerintah daerah, tokoh daerah dan nasional, mitra dan sponsor, serta Talkshow Bedah Buku PSDA menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Dr Arya H Dharmawan (Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University), M Abdul Ghani (Direktur Utama PTPN III), dan Arif Budimanta (Staf khusus Presiden RI).

Sumber: Humas IPB Universitas

Bogor Ngariung Umumkan Akta Legalitas Yayasan Sinergi Perubahan Nusantara pada Milad ke-6

Bertepatan dengan Hari Perempuan Sedunia, pada tanggal 08 Maret 2020 Bogor Ngariung menggelar acara syukuran milad yang ke-6. Perayaan ulang tahun kali ini lebih spesial karena dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari komunitas-komunitas yang tergabung dalam Bogor Ngariung, NGO, hingga Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim.

Selebrasi ulang tahun ke-6 diselenggarakan di Rekam Nusantara Foundation, Sempur, Bogor Tengah, Jawa Barat. Koordianator Utama Bogor Ngariung Robby Firliandoko membuka Ngariung Milad ke-6 dengan memaparkan latar belakang Bogor Ngariung. “Ide mengumpulkan komunitas pegiat perubahan pada tanggal 8 Maret 2014 lalu adalah karena di Bogor ada banyak komunitas, namun tidak saling mengenal dan jalan sendiri-sendiri. Kemudian saya bersama pendiri lainnya, Kang Ace, Kang Bahri dan Kang Dani memiliki inisiatif untuk mengumpulkan komunitas agar saling kenal dan tercipta Sinergisitas. Alhamdulillah Bogor Ngariung bisa terus ada hingga usia yang ke enam ini,” kata Robby.

Saat ini, Bogor Ngariung telah berhasil menaungi 133 komunitas dari 9 bidang berbeda meliputi Pendidikan, Seni, Literasi, Lingkungan, Sejarah & Budaya, Filantropi, Media Komunikasi, Olahraga, dan Pengembangan Masyarakat.

Lebih lanjut, Robby menambahkan bahwa Bogor Ngariung tidak hanya mengumpulkan komunitas-komunitas untuk diajak berkolaborasi dalam melakukan perubahan. Tetapi juga ingin meningkatkan kapasitas komunitas yang tergabung di dalamnya.

“Buat lingkungan kita semua, buat kota Bogor, kabupaten Bogor. Semoga semangat ini tidak pernah redup. Semoga semangat ini bisa terus menyala dan semoga kita bisa terus melakukan perubahan ini,” harapan dan doa yang diutarakan Robby.

Robby pun menyampaikan bahwa pada tahun ke-6 ini Bogor Ngariung sudah mengantongi akta legalitas, “Alhamdulillah, di tahun ke-6 ini. Ada kado terindah buat Bogor Ngariung. Karena legalitas BN sudah ada dengan nama Yayasan Sinergi Perubahan Nusantara. Yayasan ini bukan hanya untuk Bogor Ngariung, namun juga untuk seluruh Komunitas yang ada di dalamnya,” tambahnya.

“Sekali lagi mohon do’anya. Semoga kita bisa terus bergerak, berkontribusi kalau bukan kita siapa lagi”, diakhir penutupan.
Ngariung pada Milad ke-6 ini juga dimeriahkan dengan pelatihan seru, yakni simulasi Project Management yang di gagas oleh Divisi Comdev untuk diperankan bersama peserta yang hadir dalam acara. Peserta dibagi ke dalam 3 kelompok, dan setiap kelompok ditugaskan untuk membuat suatu projek aksi bersama.

Dalam permainan ini, peserta ditargetkan untuk mendapatkan perizinan tempat dan mendapatkan pemasukan sekiranya 20% dari total anggaran yang didapatkan. Mereka pun harus mulai membuat tema, pembagian tugas setiap komunitas untuk menjalankan aksi tersebut.

Perayaan acara milad Bogor Ngariung yang ke-6 ini juga diwarnai dengan pemotongan tumpeng sebagai wujud rasa syukur yang dilakukan oleh Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim bersama seluruh Tim Bogor Ngariung dan Komunitas Bogor.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Bogor ini menyampaikan harapannya untuk Bogor Ngariung dan komunitas-komunitas yang hadir. Kang Dedie sangat bahagia dengan kehadiran-kehadiran komunitas-komunitas yang ada di Bogor sebagai representasi perubahan yang bisa dilakukan di Bogor tercinta ini.

“Dengan adanya masyarakat madani modern seperti komunitas-komunitas ini bisa membantu membangun karakter masyarakat, memberi nilai perubahan bagi Bogor,” katanya.

Kang Dedie juga berharap semoga dengan adanya Bogor Ngariung dapat menciptakan dan menghasilkan pemikiran ide-ide yang cemerlang untuk kemajuan Bogor.

“Semoga tetap kompak, kreatif. Semakin bisa memberi kontribusi terbaik. Semoga semua yang hadir diberiakan kesehatan, J-O-D-O-H, dan rezeki yang banyak”, harapnya.

“Sekali lagi saya ucapkan selamat atas ulang tahunnya yang ke-6 untuk Bogor Ngariung”, tambahnya saat prosesi pemotongan tupeng.

Selain ucapan selamat dari Bapak Wakil Wali Kota Bogor, Bogor Ngariung pun mendapatkan doa dan harapan dari perwakilan komunitas-komunitas yang hadir di acara tersebut.

“Untuk Bogor Ngariung selamat ulang tahun. Semoga semakin mengayomi kita semua dan bisa semakin kompak. Dan juga yang disemogakan tercapai,” ucap Denisa perwakilan Komunitas Urban Sakola.

“Saya harap apa yang menjadi ide-ide kita disini bisa terealisasi ke masyarakat. Dan, tentunya sifatnya lebih sering, bukan cuman bikin di awal dan rapat-rapat duduk. Saya harap bisa mewujudkan cita-cita kita disini. Jalan terus dan bermanfaat bagi masyarakat”, kata Idrus dari komunitas Fakta Bahasa.

Ditulis oleh: Wiwi

Diedit oleh: Robby Firliandoko

Generasi Cerdas Iklim Ajak Siswa SD Ciampea 1 Tanggap Bencana dan Menjaga Lingkungan

Anak-anak merupakakan elemen yang paling terdampak bencana alam. Sehingga, mitigasi bencana perlu dilakukan. Hal tersebut yang mendasari Komunitas Gerakan Cerdas Iklim (GCI) untuk mengedukasi siswa-siswi agar sadar terhadap perubahan iklim, mau menjaga lingkungan dan siaga terhadap risiko bencana alam. Kegiatan kampanye menjaga lingkungan ini merupakan rangkaian yang dilakukan selama tiga minggu pada bulan Februari di SD Ciampea 1, Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

Ketua GCI menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan yang dilakukan di SD Ciampea 1 ini untuk mengedukasi tentang Perubahan Iklim, Bencana dan Lingkungan di SD Ciampea 1, Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

“Pada rangkaian terakhir ini kami mengajak adik-adik untuk kampanye menjaga lingkungan dengan membuat kreasi yang akan menghiasi dinding sekolah. Mini mading ini diharapkan dapat menjadi pengingat atas materi-materi yang telah diberikan,” kata Egi.

Egi menambahkan bahwa pada pertemuan pertama yang diselenggarakan pada tanggal 15 Februari GCI mengajak adik-adik untuk mengenal iklim, cuaca, awan dan sebagainya. “Kami juga memperkenalkan musim-musim di Indonesia dan di luar negeri. Sehingga adik-adik tahu bahwa Indonesia memiliki dua musim dan ada beberapa negara yang memiliki empat musim,” kata Egi.

Kemudian pada pertemuan kedua yang diselenggarakan pada tanggal 22 Februari, GCI memperkenalkan tentang bencana alam. Egi juga menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan salah satu pendorong terjadinya bencana alam. “Kenapa akhir-akhir ini hujannya jadi lebih deras dan musim kemaraunya jadi lebih panjang. Itu adalah dampak perubahan iklim dan kita rentan terhadap risiko bencana. Untuk itu kami ajak adik-adik untuk tanggap terhadap bencana,” tambahnya.

Siswa SD Ciampea 1 membuat kreasi mini mading sambil belajar tentang ramah lingkungan

Perwakilan Sekolah SD Ciampea 1 Ibu Yuli menyampaikan terima kasih kepada GCI dan berharap praktik ramah lingkungan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Ilmu yang kami dapat pasti ada manfaatnya dan semoga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan pada rangkaian terakhir ini ditutup dengan Lomba Cerdas Cermat sebagai pascates dan juga penghargaan kepada Pihak Sekolah dan Duta GCI.

Salah satu Siswa Kelas 4 SD Ciampea 1 Rendi Rahardian yang juga menjadi Duta GCI menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh kakak-kakak GCI seru. “Saya sudah mulai pakai botol, Kak. Dan kalau belanja pakai tas. Tapi belum ajak ayah-ibu, lupa wae,” kata Rendi.

Lebih lanjut, Egi menjelaskan bahwa langkah kecil yang selalu GCI sampaikan kepada adik-adik untuk menjaga lingkungan dan tanggap terhadap bencana adalah mengelola sampah pada tempatnya dan menanam pohon.

Kelompok siswa memamerkan hasil kreasi mini mading mereka

Setelah ini, GCI akan ada kerja sama dengan Kedubes Belanda dan projek kedua pada bulan Juli.

Ditulis oleh: Robby Firliandoko

Buitenzorg, Kota Terindah di Jawa

Pada tahun 1800-an, Bogor pernah mendunia melalui lukisan suasana Bogor yang berjudul Sepenggal Suasana Surga dan itu ada di Buitenzorg. Hal itu, memantik Forum Unggah Unduh Kota yang diselenggarakan oleh Kampoeng Bogor di Kopi Kebun, pada 28 Februari 2020. Seluruh peserta yang hadir seolah diajak bermesraan dengan suasana Bogor yang pernah menjadi imajinasi Kolonial bahwa Bogor merupakan kota yang bebas dari kekhawatiran, atau Buitenzorg.

Ketua Kampoeng Bogor Reza Adiatma menjelaskan bahwa Forum Ungggah Unduh Kota ada sejak tahun 2017 yang diharapkan dapat menjadi ruang diskusi dan bertukar fikiran dari dan oleh warga.

Reza juga menambahkan bahwa biasanya, Format Unggah Unduh Kota hanya menyajikan satu pemateri namun pada edisi kali ini Unggah Unduh Kota menyajikan dua pamateri yakni Wartawan Seluang.id Anggit dan Penulis Senior Dewi Panji. “Kampoeng Bogor sendiri sudah berusia 13 tahun. Dan untuk kegiatannya sendiri kami ada kegiatan Tualang Senang, Melek Bogor, Unggah Unduh Kota dan Riset,” kata Reza.

Moderator Unggah Unduh Kota ke-7 Ardy Kresna Crenata mengawali forum dengan mengajak Pemateri untuk bercerita tentang perubahan Bogor dari waktu ke waktu. Penulis Senior Dewi Panji yang sudah tinggal di Bogor sejak tahun 1955 bercerita bahwa pada saat itu di tempatnya tinggal, Taman Malabar masih banyak Kelelawar yang tinggal di Kebun Raya dan akan menghitami langit-langit pada sore hari. “Keadaan itu yang paling saya ingat dan saya rindukan. Dahulu juga belum ada jalan tol dan masih banyak sawah dan kebun-kebun. Dulu juga kami tidak ada mal, tempat perbelanjaan hanya di Jembatan Merah dan sangat jarang sekali kendaraan. Anak-anak sekolah naik delman,” kata Dewi Panji.

Ibu Dewi Panji bercerita pengalaman manisnya saat awal-awal tinggal di Bogor

Selain itu, Dewi Panji juga menambahkan bahwa budaya masyarakat juga berubah. Dewi bercerita bahwa pada saat itu, masyarakat Bogor saling kenal dan dekat.

Wartawan Seluang.id yang juga pegiat di Kampoeng Bogor Anggit bercerita bahwa meskipun tidak lahir dan besar di Bogor, Anggit yang tinggal di Bogor sejak tahun 2005 memiliki kesan bahwa Bogor seperti Salatiga karena udaranya sejuk dan banyak pohon. “Saya dari Sleman dan memilih Bogor karena saya pernah ke Bogor pada tahun 2002 dan saya merasakan nyaman karena sejuk. Kalau di Jogja dulu, saya harus ke Kaliurang dulu baru merasakan hawa dingin,” kata Anggit.

Kemudian, Anggit juga menjelaskan bahwa ketertarikannya dengan Bogor karena pada waktu itu berkenalan dengan beberapa pemuda di Kalam yang pada waktu itu sedang merumuskan Pameran Bogor Tempo Dulu. “Saya dulu dipaksa baca oleh Alm. Baehaki, setelah itu kami mulai memahami apa yang beliau inginkan. Dulu kerjaan kami adalah baca dan menyerbu taman dengan membawa Bogor Tempo Dulu. Kita juga harus berterima kasih kepada Alm. Saleh Danasasmita yang telah membukukan bagaimana Sejarah Bogor,” tambahnya.

Mengenai Buku Buitenzorg Kota Terindah di Jawa, Anggit juga menjelaskan bahwa buku itu menceritakan tentang kekaguman penulis-penulis pada waktu itu tentang Bogor. “Salah satunya Renward, Dokter yang pada tahun 1800-an dikirim ke Bogor untuk meneliti tentang salah satu penyakit, kemudian dia malah tertarik mengunjungi taman-taman yang ada di Bogor. Kemudian, Bogor semakin dikenal karena pada waktu ada pameran lukisan Bogor yang memiliki judul yang sangat menawan yaitu ‘Sepenggal Suasana Surga dan itu ada di Buitenzorg’. Dan setelah itu Buitenzorg jadi bahan perbincangan, bahkan brosur-brosur pariwisata juga memuat gambar Bogor, namun, untuk dapat berkunjung ke Bogor pada waktu itu tidak mudah,” katanya.

Buku Buitenzorg, Kota Terindah di Jawa karya Alm. Baehaqi

Berbicara Buku Sejarah Bogor karya Alm. Saleh Danasasmita, Anggit menambahkan bahwa sebenarnya tulisan Alm. Saleh belum selesai dan ada sepenggal akhir yang hilang.

Reza menambahkan bahwa dalam Program Kota Pusaka, Bogor masuk ke dalam Tingkat A karena Bogor memiliki sejarah yang panjang. “Kami pernah terlibat di dalam program Kota Pusaka dan pendataan Benda Cagar Budaya Bogor. Bogor dinilai sebagai Kota Pusaka yang paling tinggi karena memiliki Sejarah yang panjang, komunitas yang aktif dan masyarakat yang menjaga situs-situs yang masih terjaga,” kata Reza.

Pada akhir sesi, Dewi Panji mengutarakan mimpinya bahwa ingin Bogor kembali seperti pada dahulu kala. Pada tahun 80 atau 90an di mana warganya masih guyub, hawanya masih sejuk dan bisa menikmati keindahan Gunung Salak.

Sementara Moderator Unggah Unduh Kota ke-7 Ardy Kresna Crenata bermimpi bahwa ingin Bogor menjadi kota intelektual yang menyediakan ruang-ruang dialektika.

Lalu Anggit, ingin merasakan suasana Bogor yang dilalui oleh Ibu Dewi Panji dan lain-lain. “Saya berharap, Bogor ini diisi oleh warga dan punggawa yang cinta dengan Kota ini. Saya merindukan Kota yang ramah kepada warganya,” tutup Anggit.

Ditulis oleh: Robby Firliandoko

Cerdas Kelola Keuangan untuk Komunitas

Keuangan di dalam kehidupan sehari-hari dan juga dinamika komunitas merupakan sebuah hal yang penting. Untuk itu, Komunitas maupun perseorangan perlu cerdas dalam mengelola keuangan

Sebagai wadah komunitas pegiata perubahan di Bogor, Bogor Ngariung mengadakan pelatihan Cerdas Merencanakan Keuangan Komunitas dengan menghadirkan Erlina Juwita, MM, CFP, QWP (Financial Planner), dari komunitas Cerdas Keuangan pada tanggal 01 Februari 2020 di CPROCOM.

“Definisi financial planning atau perencanaan keuangan adalah cara seseorang untuk membuat rencana atas tujuan-tujuan keuangan yang akan dicapai. Misalnya dengan cara investasi,” kata Erlina Juwita, saat diwawancarai.

Menurut Juwita, perencanaan keuangan itu sendiri memiliki tahapan-tahapan. Ibarat membangun sebuah rumah harus ada pondasi dan pilarnya. Setelah itu, mencapai tujuan keuangannya.

Bagaimana cara mencapai tujuan keuangannya itu sendiri?

“Pertama, mengatur arus kas. Kedua, kuatkan laporan keuangan. Kemudian, kita bisa membangun pilar-pilarnya. Cari tahu bagaimana investasinya, pembayaran pajak dan proteksinya sehingga bisa tercapai tujuan keuangannya. Itulah, perecanaan keuangan sebenarnya,” tambahnya.

Lantas, bagaimana cara cerdas mengatur keuangan dalam sebuah komunitas agar bisa berjalan lancar? Berikut tips yang bisa dibagikan:

  • Membuat Anggaran Kegiatan

Biasanya, komunitas rutin melakukan kegiatan untuk menjalakankan program-programnya. Maka sebelum melaksanakan acara buatlah anggaran. Berapa kira-kira dana yang dibutuhkan untuk menopang terselenggaranya kegiatan? Dan, cek juga kondisi keuangan komunitas saat ini.

  • Mengatur Arus Kas

Jangan lupa untuk selalu mencatat pendapatan dan pengeluaran komunitas. Tujuannya, untuk mengetahui dana tersebut digunakan untuk apa saja.

  • Prioritas Keuangan

Tentukan prioritas. Misalnya membeli keperluan komunitas mulai dari yang paling banyak, penting, dan mendesak hingga paling sedikit. Jangan sampai membuang-buang dana hanya untuk memenuhi kegiatan yang ecek-ecek.

  • Review

Apakah dana atau uang tersebut mampu untuk memenuhi kegiatan yang akan dijalankan. Jika tidak. Kalian bisa melakukan open donasi, fundraising, dan pelatihan tambahan untuk menjalankan visi dan misi yang ingin dicapai dalam komunitas agar tidak memberatkan anggota yang harus mengeluarkan dana dari uang pribadi.

Itulah, beberapa tips yang mesti diterapkan dalam komunitas untuk mengatur keuangan. Dwisanti Rahmayanti dari komunitas Satu Atap berpendapat bahwa pelatihan ini sangat menarik karena sebagai komunitas yang mau beradaptasi terhadap manajemen keuangan untuk lebih rapih dan terarah, bagaimana agar keuangan mereka bisa menjadi tidak defisit bahkan surplus. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Nurul Fadila dari komunitas Komet bahwasanya pelatihan ini sangat bagus, mengedukasi, dan terencana untuk keuangan komunitas itu sendiri.

Ditulis oleh: Wiwi

Diedit oleh: Robby Firliandoko

Rayakan Ulang Tahun Pertama, Reunion 71 FC Berikan Penghargaan Kepada Pemain Terajin

Tanggal 22 Februari 2020 menjadi tanggal yang mengesankan bagi Tim Sepak Bola Reunion 71 FC. Pasalnya, Tim Sepak Bola asal Bogor ini merayakan Hari Ulang Tahun yang Pertama. Perayaan yang diwarnai dengan bermain bola bersama di Stadion Mini Kabo, doa bersama, penghargaan kepada pemain terajin dan potong tumpeng ini merupakan perayaan hari ulang tahun yang jatuh pada tanggal 23 Februari.

Ketua Tim Sepak Bola Reunion 71 FC Tubagus Dikas menjelaskan bahwa Reunion 71 FC bertujuan untuk ajang silaturahim alumni SMP 1 Cibinong dan olahraga. “Satu tahun yang lalu kami awalnya kumpul-kumpul saja. Awalnya kami nebeng di tim lain kemudian kami punya ide buat sendiri sambil reunian alumni SMP 1 Cibinong dan sekarang kami punya anggota dari Alumni Satoe 71 maupun muda mudi Bogor yang memiliki hobi bermain sepak bola,” kata Dikas.

Dikas menambahkan bahwa saat saat ini anggota Reunion 71 FC berjumlah 200 orang. Salah satu anggota dari angkatan 2003 Riki Ramdani atau yang akrab dipanggil Bancet mengucapkan terima kasih karena Reunion 71 FC menjadi ajang silaturahim. “Mudah-mudahan kita tetap solid. Bola itu sarana, yang penting kekeluargaan. Kita semua saudara. Terima kasih juga untuk admin yang telah rela menyempatkan waktunya untuk mengelola Reunion 71 FC,” kata Riki.

Anggota dari nonalumni Akbar Djems menyampaikan terima kasih karena dengan bermain bola di Reunion 71 FC bisa olahraga rutin dan tambah teman. “Semoga dari tim ini bisa tambah jejaring dan semoga kita bisa semakin kompak,” tutur Akbar Djems.

Perwakilan dari Anggota 2005 Rico mengucapkan selamat ulang tahun untuk Reunion 71 FC. “Ada banyak hal yang gue dapat di sini, gue jadi bisa ketemu lagi sama angkatan 2005 dan sama teman SMP gue,” kata Rico.

Pada perayaan ulang tahun yang pertama ini, Reunion 71 FC juga memberikan penghargaan kepada pemain terajin di masing-masing posisi. Pemain terajin ini mendapatkan hadiah, terdaftar secara otomatis saat bermain di Lapangan yang bagus dan bebas biaya latihan sebanyak satu kali. Adapun peraih pemain terajin 2019 Reunion 71 FC untuk posisi Penjaga Gawang adalah Rico, Pemain Belakang adalah Galih, Pemain Sayap adalah Arbi, Pemain Gelandang Bertahan adalah Alvin, Pemain Gelandang Serang adalah Genensha, Pemain Serang adalah Nifo.

“Terima kasih kepada seluruh anggota, kemenangan ini untuk kita semua dan semoga ini menjadi motivasi bagi kita agar rajin latihan,” kata perwakilan Pemain Terajin Galih.

Pengurus Tim Sepak Bola Reunion 71 FC Irwanto juga menjelaskan bahwa agenda Reunion 71 FC ke depan akan lebih banyak latihan dan bermain di lapangan-lapangan bagus seperti Stadion Pakansari, Stadion Utama Gelora Bung Karno dan yang lainnya.

Ditulis oleh: Robby Firliandoko

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai