Buitenzorg, Kota Terindah di Jawa

Pada tahun 1800-an, Bogor pernah mendunia melalui lukisan suasana Bogor yang berjudul Sepenggal Suasana Surga dan itu ada di Buitenzorg. Hal itu, memantik Forum Unggah Unduh Kota yang diselenggarakan oleh Kampoeng Bogor di Kopi Kebun, pada 28 Februari 2020. Seluruh peserta yang hadir seolah diajak bermesraan dengan suasana Bogor yang pernah menjadi imajinasi Kolonial bahwa Bogor merupakan kota yang bebas dari kekhawatiran, atau Buitenzorg.

Ketua Kampoeng Bogor Reza Adiatma menjelaskan bahwa Forum Ungggah Unduh Kota ada sejak tahun 2017 yang diharapkan dapat menjadi ruang diskusi dan bertukar fikiran dari dan oleh warga.

Reza juga menambahkan bahwa biasanya, Format Unggah Unduh Kota hanya menyajikan satu pemateri namun pada edisi kali ini Unggah Unduh Kota menyajikan dua pamateri yakni Wartawan Seluang.id Anggit dan Penulis Senior Dewi Panji. “Kampoeng Bogor sendiri sudah berusia 13 tahun. Dan untuk kegiatannya sendiri kami ada kegiatan Tualang Senang, Melek Bogor, Unggah Unduh Kota dan Riset,” kata Reza.

Moderator Unggah Unduh Kota ke-7 Ardy Kresna Crenata mengawali forum dengan mengajak Pemateri untuk bercerita tentang perubahan Bogor dari waktu ke waktu. Penulis Senior Dewi Panji yang sudah tinggal di Bogor sejak tahun 1955 bercerita bahwa pada saat itu di tempatnya tinggal, Taman Malabar masih banyak Kelelawar yang tinggal di Kebun Raya dan akan menghitami langit-langit pada sore hari. “Keadaan itu yang paling saya ingat dan saya rindukan. Dahulu juga belum ada jalan tol dan masih banyak sawah dan kebun-kebun. Dulu juga kami tidak ada mal, tempat perbelanjaan hanya di Jembatan Merah dan sangat jarang sekali kendaraan. Anak-anak sekolah naik delman,” kata Dewi Panji.

Ibu Dewi Panji bercerita pengalaman manisnya saat awal-awal tinggal di Bogor

Selain itu, Dewi Panji juga menambahkan bahwa budaya masyarakat juga berubah. Dewi bercerita bahwa pada saat itu, masyarakat Bogor saling kenal dan dekat.

Wartawan Seluang.id yang juga pegiat di Kampoeng Bogor Anggit bercerita bahwa meskipun tidak lahir dan besar di Bogor, Anggit yang tinggal di Bogor sejak tahun 2005 memiliki kesan bahwa Bogor seperti Salatiga karena udaranya sejuk dan banyak pohon. “Saya dari Sleman dan memilih Bogor karena saya pernah ke Bogor pada tahun 2002 dan saya merasakan nyaman karena sejuk. Kalau di Jogja dulu, saya harus ke Kaliurang dulu baru merasakan hawa dingin,” kata Anggit.

Kemudian, Anggit juga menjelaskan bahwa ketertarikannya dengan Bogor karena pada waktu itu berkenalan dengan beberapa pemuda di Kalam yang pada waktu itu sedang merumuskan Pameran Bogor Tempo Dulu. “Saya dulu dipaksa baca oleh Alm. Baehaki, setelah itu kami mulai memahami apa yang beliau inginkan. Dulu kerjaan kami adalah baca dan menyerbu taman dengan membawa Bogor Tempo Dulu. Kita juga harus berterima kasih kepada Alm. Saleh Danasasmita yang telah membukukan bagaimana Sejarah Bogor,” tambahnya.

Mengenai Buku Buitenzorg Kota Terindah di Jawa, Anggit juga menjelaskan bahwa buku itu menceritakan tentang kekaguman penulis-penulis pada waktu itu tentang Bogor. “Salah satunya Renward, Dokter yang pada tahun 1800-an dikirim ke Bogor untuk meneliti tentang salah satu penyakit, kemudian dia malah tertarik mengunjungi taman-taman yang ada di Bogor. Kemudian, Bogor semakin dikenal karena pada waktu ada pameran lukisan Bogor yang memiliki judul yang sangat menawan yaitu ‘Sepenggal Suasana Surga dan itu ada di Buitenzorg’. Dan setelah itu Buitenzorg jadi bahan perbincangan, bahkan brosur-brosur pariwisata juga memuat gambar Bogor, namun, untuk dapat berkunjung ke Bogor pada waktu itu tidak mudah,” katanya.

Buku Buitenzorg, Kota Terindah di Jawa karya Alm. Baehaqi

Berbicara Buku Sejarah Bogor karya Alm. Saleh Danasasmita, Anggit menambahkan bahwa sebenarnya tulisan Alm. Saleh belum selesai dan ada sepenggal akhir yang hilang.

Reza menambahkan bahwa dalam Program Kota Pusaka, Bogor masuk ke dalam Tingkat A karena Bogor memiliki sejarah yang panjang. “Kami pernah terlibat di dalam program Kota Pusaka dan pendataan Benda Cagar Budaya Bogor. Bogor dinilai sebagai Kota Pusaka yang paling tinggi karena memiliki Sejarah yang panjang, komunitas yang aktif dan masyarakat yang menjaga situs-situs yang masih terjaga,” kata Reza.

Pada akhir sesi, Dewi Panji mengutarakan mimpinya bahwa ingin Bogor kembali seperti pada dahulu kala. Pada tahun 80 atau 90an di mana warganya masih guyub, hawanya masih sejuk dan bisa menikmati keindahan Gunung Salak.

Sementara Moderator Unggah Unduh Kota ke-7 Ardy Kresna Crenata bermimpi bahwa ingin Bogor menjadi kota intelektual yang menyediakan ruang-ruang dialektika.

Lalu Anggit, ingin merasakan suasana Bogor yang dilalui oleh Ibu Dewi Panji dan lain-lain. “Saya berharap, Bogor ini diisi oleh warga dan punggawa yang cinta dengan Kota ini. Saya merindukan Kota yang ramah kepada warganya,” tutup Anggit.

Ditulis oleh: Robby Firliandoko

Diterbitkan oleh Tim Infonitas

Tim Pengelola Infonitas yang akan menyajikan informasi tentang komunitas.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai