Terhitung sejak awal Maret, atau tepatnya sejak Pasien Positif Covid-19 bernomor urut nol satu diumumkan, tepat pada hari itu juga Presiden Indonesia Joko Widodo telah menyampaikan bahwa Pemerintah sudah siap melawan Covid-19 dengan berbagai persiapan dari mulai fasilitas kesehatan hingga alokasi anggaran. Namun, selama kurang lebih dua bulan bangsa ini dinyatakan pandemi, serta berbagai imbauan perilaku hidup sehat dan bersih, perenggangan sosial hingga kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah sudah dilakukan demi membatasi penyebaran virus Covid-19, pandemi ini belum juga usai. Mengingat PSBB, ada yang berbeda saat saya mengikuti kuliah Komunikasi Perubahan Sosial pada minggu lalu (1/5/2020).
Dosen saya, Dr. Basita Ginting menyampaikan bahwa PSBB di dalam Ilmu Komunikasi Perubahan sosial bukan Pembatasan Sosial Berskala Besar semata melainkan Perubahan Sosial Berskala Besar. Hal yang disampaikan Dr. Basita bukan tanpa sebab. Covid-19 memiliki dampak yang luas dan bukan hanya menyasar sektor kesehatan. Rektor IPB University Prof. Arif Satria dalam opininya yang dimuat di Media Indonesia pada tanggal 28 April 2020 menjelaskan bahwa efek Covid-19 juga menyasar aspek ekonomi, pendidikan, keagamaan, pemerintahan, dan pangan. Di tulisan itu juga, Rektor yang juga merupakan Guru Besar Tetap Bidang Ekologi-Politik di IPB University ini menyampaikan solusi bahwa kondisi ini merupakan momentum untuk Memasang Ulang Tata Kehidupan atau yang Ia sebut Install Ulang Tata Kehidupan.
Pemasangan ulang tata kehidupan tersebut meliputi pemulihan lingkungan, gaya hidup sehat, sosial ekonomi, pembelajar agar melakukan riset transformatif dan bermanfaat, dan terakhir tata ulang kehidupan spiritual. Secara garis besar, saya setuju ide program ini, namun secara fundamental, sepertinya ada yang dilupakan oleh Prof Arif Satria. Padahal, pada awal gagasan yang merupakan latar belakang opini, beliau telah mengutarakan hal tersebut namun tidak disampaikan secara ide. Hal itu adalah tentang Pangan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pangan menjadi salah satu sektor yang terdampak pada saat pandemi ini. Bahkan, seperti yang disampaikan oleh Tempo.co pada tanggal 28 April 2020, Presiden Indonesia Joko Widodo menyampaikan bahwa sejumlah bahan pangan mengalami defisit. Menurut Jokowi, laporan yang diterimanya menunjukkan stok beras mengalami defisit di tujuh provinsi, stok jagung defisit di 11 provinsi, kemudian stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi dan stok bawang merah diperkirakan juga defisit di satu provinsi. Dan distribusi yang memang sedang dibatasi menjadi faktor utamanya.
Selain itu, Rektor Arif juga perlu mengingat kembali bagaimana isi pidato Founding Father Indonesia Ir. Soekarno saat meresmikan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1952. “Sodara-sodara, soal persediaan makanan rakjat ini, bagi kita adalah soal hidoep ataoe mati. Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kaloe kita tidak “ampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami tjelaka.”
Pandemi yang belum juga usai, kondisi pangan yang ternyata mengalami permasalahan dan amanah yang diemban oleh IPB sebaiknya menjadi bahan refleksi bagi Rektor Arif Satria beserta seluruh masyarakat IPB, dari mulai Dosen, Staf dan juga Mahasiswa. Sebaiknya, Rektor Arif perlu menambahkan salah satu program yang saat ini bisa dilakukan dan menjadi bagian dalam sosial masyarakat kita yaitu Menanam Kembali. Pada kondisi saat ini sebaiknya kita jangan tergantung hanya kepada petani, namun juga sebaiknya memiliki kebun sendiri untuk bisa memenuhi ketahanan pangan minimal tingkat keluarga. Menanam Kembali dapat menjadi salah satu kegiatan yang bisa dilakukan oleh masyarakat di tengah pandemi ini yang memang disarankan untuk beraktivitas dari rumah. Hal ini juga menjadi hal perubahan sosial di dalam masyarakat karena terdapat aktivitas baru yang sebenarnya sudah dilakukan oleh nenek moyang kita yaitu menanam kembali dan berkebun.
Menanam Kembali juga dapat menghasilkan produk pangan yang kita olah sendiri dan tahu bagaimana prosesnya, sehingga kita juga tahu bagaimana kandungan kesehatannya karena untuk konsumsi sendiri tidak mungkin menggunakan bahan tambahan yang tidak menyehatkan. Kemudian, praktik berkebun di tengah kota atau yang disebut Urban Farming juga sedang digalakan di negara dan kota-kota besar.
Di tengah minimnya lahan kosong, urban farming hadir dengan memanfaatkan ruang dengan media yang ada di sekitar rumah bahkan ada juga yang memanfaatkan lahan tidur. Bahkan, praktik Menanam Kembali sebagai bentuk antisipasi ketahanan pangan juga sudah mulai dipraktikkan oleh muda-mudi di Bogor seperti yang diberitakan oleh bogornetwork.com pada tanggal 21 April 2020 dengan judul Insan Kreatif Muda Bogor Lakukan Menanam Kembali.
Sehingga, saya berharap Rektor Arif yang merupakan pimpinan institusi pendidikan di dunia pertanian dapat mendorong masyarakat untuk melakukan program ketahanan pangan dengan menanam kembali atau kembali berkebun.
Di samping itu, pandemi yang sedang terjadi juga menciptakan perubahan yang signifikan di beberapa sektor. Tak lain dan tak bukan, kehadiran teknologi menjadi salah satu faktor beberapa kondisi menjadi berubah. Rektor IPB University Prof. Arif Satria dalam opini yang dimuat di Harian Republika pada tanggal 2 Mei 2020 menjelaskan bahwa Covid-19 memaksa beberapa kalangan untuk memanfaatkan teknologi dan memasuki era revolusi industri 4.0.
Beberapa hal yang pada awalnya harus dilakukan dengan bertatap muka secara langsung, pada kondisi ini yang juga diuntungkan dengan kehadiran teknologi yang sudah ada menjadi tidak perlu bertemu dan bisa dilakukan secara jarak jauh dan hanya memanfaatkan gawai atau perangkat komputer lainnya.
Prof Arif menyampaikan bahwa dunia pendidikan, pekerjaan, kesehatan, galang dana kemanusiaan, transportasi daring hingga pertanian menjadi berubah seketika karena pandemi ini. Contoh paling nyata yang dirasakan oleh penulis adalah bagaimana perubahan gaya belajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka di kelas kini sudah hampir lima pertemuan dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Google Meeting, Zoom dan juga Grup Whatsapp. Meski pada awal terasa aneh, namun penulis bersama rekan lainnya dan juga para Dosen Pengampu mencoba terbiasa dan sesekali kelas coba dibuat prakelas dahulu dengan latihan agar ketika waktunya belajar di kelas dapat terbiasa dan tanpa kendala.
Meskipun terlihat diuntungkan, namun keadaan ini belum bisa dikatakan menyeluruh, bahkan Prof. Arif juga menyatakan bahwa keadaan ini masih parsial. Infrastruktur internet yang belum merata di beberapa daerah dan juga kemampuan literasi digital serta memanfaatkan perangkat teknologi dengan baik oleh masyarakat masih harus menjadi evaluasi bila keadaan ini akan terus terjadi meski seolah menjadi perangkap. Belum lagi keamanan pengguna yang masih menjadi permasalahan karena beberapa waktu terakhir sedang marak kasus pembobolan dan jual beli data pengguna. Beberapa hal ini perlu menjadi pertimbangan Pemerintah dan juga masyarakat.
Namun, ada yang tidak kalah penting dibanding kemajuan yang meskipun terasa seperti perangkap karena pandemi ini, ada keadaan di masyarakat yang masih perlu diubah di tengah pandemi ini. Dari mulai kesadaran masyarakat untuk mempraktikkan segala imbauan dan menjaga diri hingga praktik perubahan yang responsif di kalangan masyarakat. Oleh karena itu penulis mengusulkan kepada orang nomor satu di IPB University untuk kembali menguatkan peran Agent of Change. Perlu kita ingat bersama bahwa IPB University atau bahkan semua kampus adalah pabrik agen perubahan.
Mahasiswa yang memiliki kemampuan dan wawasan lebih tinggi dibanding masyarakat lainnya perlu didorong untuk terjun langsung bersama masyarakat demi merespon keadaan yang belum bisa dipastikan kapan akan selesainya.
Dan yang menarik lagi, pandemi ini mengharuskan hampir semua Mahasiswa melakukan proses pembelajaran di rumah, yang artinya Mahasiswa memiliki lebih banyak waktu di rumah dibanding di kampus dan tentunya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk melebur bersama masyarakat. Pada kondisi ini, Mahasiswa yang disebut sebagai agen perubahan dapat memulai gerakannya dengan mengedukasi masyarakat mengenai pandemi ini dan menjelaskan bagaimana cara untuk menghadapinya. Meskipun hal ini tidak mudah karena curhatan para mahasiswa justru memiliki banyak tugas di tengah kuliah daring ini.
Hal ini perlu dilakukan mengingat di dalam ilmu komunikasi pembangunan, agen perubahan yang juga bisa disebut fasilitator menurut Levin dalam Mardikanto (2010) menjelaskan bahwa salah ada tiga tahapan peran penyuluh adalah menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan. Kemudian Mosher dalam Mardikanto (2010) juga mengungkapkan bahwa setiap fasilitator harus mampu melaksanakan peran sebagai Guru untuk mengubah perilaku, Penganalisa yang melakukan pengamatan terhadap keadaan, masalah dan juga potensi, Penasehat untuk memilih alternatif perubahan yang paling tepat, dan Organisatoris yang harus mampu menjalin hubungan baik dengan segenap lapisan masyarakat, mampu menumbuhkan kesadaran dan menggerakan masyarakat secara partisipatif serta mampu memobilisasi masyarakat maupun mengembangkan masyarakat.
Terakhir, kegiatan menanam kembali untuk mengantisipasi kelangkaan pangan dan juga penguatan kembali peran agen perubahan merupakan hal yang berkelindan, dan kedua hal ini tidak jauh dari pondasi dasar IPB University, sehingga bisa menjadi salah satu senjata untuk merespon keadaan dan membangun perubahan sosial yang baik untuk masyarakat dan bangsa Indonesia.
Penulis: Robby Firliandoko
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pembangunan dan Pertanian Pascasarjana IPB University
Foto: Kegiatan Menanam Kembali dari Bogor Rise Against Corona (Borac 19)
Gunungputri, 5 Mei 2020.
Daftar Pustaka
Firliandoko, Robby. 2020. Insan Kreatif Muda Bogor Lakukan Menanam Kembali. Diunduh di https://bogornetwork.com/indeks/berita-utama/insan-kreatif-muda-bogor-lakukan-menanam-kembali/ pada tanggal 4 Mei 2020, Pukul 21.00.
Mardikanto, T. (2010). Komunikasi Pembangunan. UNS Press.
Nurita, Dewi. 2020. Jokowi Sebut Stok Sejumlah Bahan Pangan Mengalami Defisit. Diunduh di https://bisnis.tempo.co/read/1336481/jokowi-sebut-stok-sejumlah-bahan-pangan-mengalami-defisit pada tanggal 4 Mei 2020, pukul 20.00.
Satria, Arif. 2020. Instal Ulang Tata Kehidupan. Dimuat di Media Indonesia pada Tanggal 28 April 2020.
Satria, Arif. 2020. Covid-19 dan Revolusi Industri 4.0. Dimuat di Harian Republika pada Tanggal 2 Mei 2020.